IMM AL-FARABI FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SUNAN AMPEL SBY
Sejarah kelahiran
Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah merupakan bagian dari AMM(Angkatan Muda Muhammadiyah)
yang merupakan organisasi otonom dibawah Muhammaadiyah.
Sesungguhnya ada dua faktor yang melandasi kelahiran
IMM, yaitu faktor intern dan ekstern.
Faktor intern yaitu faktor yang terdapat didalam
diri Muhammadiyah itu sendiri, sedangkan factor ekstern adalah faktor yang
berawal dari luar Muhammadiyah, Khususnya Umat islam di indonesia dan pada
Umumnya adalah seluruh umat dunia.
Faktor
intern sebenarnya lebih dominan dalam bentuk motivasi idealisme, yaitu motif
untuk mengembangkan ideologi Muhammadiyah, yaitu faham dan cita cita
Muhammadiyah bahwa Muhammadiyah pada hakekatnya adalah sebuah wadah yang
bercita-cita untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama islam, sehingga
terwujud masyarakat yang sebenar-benarnya.
Mau tidak mau Muhammadiyah harus bersinggungan
dengan Masyarakat bawah, atau masyarakat heterogen.Ada masyarakat petani, pedagang,
peternakan dan masyarakat padat karya dan ada masyarakat administratif dan
lainnya yang juga termasuk didalamnya masyarakat kampus atau intelektual yaitu
masyarakat kalangan Mahasiswa.
Persinggungan
Muhammadiyah dalam maksud dan tujuannya, terutama terhadap masyarakat
mahasiswa, secara teknisnya bukan secara langsung terjun mendakwahi dan
mempengaruhi mahasiswa.Khususnya Para Muballighnya yang langsung terjun ke
mahasiswa. Tapi dalam hal ini muhammadiyah memakai cara jitu yaitu dengan
membentuk organisasi yang memungkinkan menarik animo atau simpati mahasiswa
untuk memakai fasilitas yang telah di siapkan.
Pada
mulanya para mahasiswa yang bergabung atau yang mengikuti jejak-jejak
Muhammdiyah oleh Muhammadiyah dianggapnya cukup bergabung dalam organisasi
otonom yang ada dalam Muhammadiyah, seperti pemuda Muhammadiyah yang
diperuntukkan pada mahasiswa dan Nasyi’atul Aisyiyah(NA) untuk Mahasiswi yang
lahir pada 27 Dzulhijjah 1349 H dan pemuda pada 25 Dzulhijjah 1350 H.
Anggapan
Muhammadiyah itu lahir pada saat Muhammadiyah Muktamar ke 25 di jakarta pada
tahun 1936 yang pada saat itu dihembuskan pula cita-cita besar Muhammadiyah
untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyahdan pada saat itu dipegang oleh
KH. Hisyam(1933-1937)dan pada saat itu dikatakan bahwa anggapan dan pemikiran mengenai
perlunya menghimpun mahasiswa yang sehaluan dengan Muhammadiyah yaitu sejak
kongres ke-25 tersebut.
Namun demikian keinginan untuk menghimpun dan
membina mahasiswa Muhammadiyah pada saat itu masih vakum, karena pada waktu itu
Muhammadiyah masih belum punya Perguruan tinggi seperti yang diinginkan sehingga para mahasiswa yang
berada di perguruan tinggi negeri maupun swasta yang sudah ada pada waktu itu
secara ideologi tetap ber ittiba’ pada Muhammadiyahdalam kondisi tetap mereka
harus bergabung dengan PM, NA atau Hizbul Wathon.pada perkembangan
keberadaan mereka yang berada dalam
ketiga otonom tersebut merasa perlu adanya organisasi khusus mahasiswa yang
secara khusus anggotanya terdiri dari mahasiswa islam. Alternatif yang mereka
pilih yaitu bergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Bahkan ada image
pada waktu itu yang menyatakan bahwa HMI
adalah anak Muhammadiyah yang diberi tugas khusus untuk membawa mahasiswa dalam
misi dan visi yang dimiliki oleh Muhammadiyah, karena waktu itu ditubuh HMI
sendiri dipegang oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah yang secara aktif mengelola HMI.
Pada
waktu itu Muhammadiyah secara kelembagaan turut mengelola HMI baik segi moral
maupun material, sampai belakangan ini menurut data-data yang ada di PP
Muhammadiyah(terutama PTM dan RS Sosial)secara materil turut membiayai hampir
setiap aktivitas HMI baik mulai dari tingkat kongres sampai aktivitas
sehari-hari. Disinilah sekali lagi bukan HMI yang turut menelorkan tokoh
Muhammadiyah tapi sebaliknya bahwa Muhammadiyah yang dulu ikut aktif
membesarkan HMI.mengapa hal itu dilakukan?? Jawabnya seperti dikemukakan
diatas, bahwa HMI diharapkan akan tetap konsisten akan faham keagamaan yang di
ilhami Muhammadiyah. Namun pada perkembangannya dahulu mengalami perubahan
khususnya dalam independensi diinginkan oleh Muhammadiyah lebih cenderung
liberal dalam segala aliran yang ada dalam teologi islam boleh mewarnai tubuh
HMI aliran-aliran asy’ariyah, syiah, mu’tazilah, nasionalisme, sekularisme,
pluralisme lainnya. Sementara dalam Muhammadiyah tidak independensi.
Muhammadiyah ditekankan pada berpendapat namun masih dalam konteks wacana islam
masih tetap berideologi Alqur’an dan As-Sunah dalam Muhammadiyah tidak mengenal
madzab-madzab yang ada seperti madzab Hanafi, Syafi’i, Hambali, dan Maliki.
Melihat
fenomena diatas, HMI yang kian melesat kealam berideologi tersebut maka dengan
diplomasinya pihak PP Muhammadiya mengeluarkan suatu policy atau
kebijakan yaitu menyelamatkan kader-kader Muhammadiyah yang masih berada di jenjang
pendidikan menengah atau pendidikan tinggi.
Pada
tanggal 18 November 1955 keinginan Muhammadiyah untuk mendirikan PTM ini PP
Muhammadiyah melalui struktur kepemimpinannya membentuk departemen pelajar dan
mahasiswa yang menampung aspirasi aktif dari pelajar dan mahasiswa.
Maka pada saat muktamar pemuda Muhammadiyah pertama di
Palembang tahun 1956 di dalam keputusannya menetapkan langkah ke depan pemuda
Muhammadiyah tahun 1956-1959 dan dalam langkah ini ditetapkan pula usaha untuk menghimpun
pelajar dan mahasiswa Muhammadiyah agar kelak menjadi pemuda Muhammadiyah atau
warga Muhammadiyah yang mampu mengemban amanah.
Untuk lebih merealisasikan usaha PP Pemuda
Muhammadiyah tersebut maka, lewat KOPMA (Konferensi Pimpinan Daerah
Muhammadiyah) se-Indonesia pada tanggal 5 shafar 1381/18 Juli 1962 di
Surakarta, memutuskan untuk mendirikan IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah). PP
Pemuda Muhammadiayah pada saat
KONPIDA ini masih belum berhasil melahirkan organisasi khusus mahasiswa
Muhammadiyah. Pada saat itu masih boleh duduk dalam kepengurusan IPM.
PP Pemuda Muhammadiyah yang oleh PP
Muhammadiyah dan Muktamar ke-I di Palembang(1956) dibebani tugas untuk
menampung aspirasi aktif para Mahasiswa Muhammadiyah, segera membentuk
studygroup yang khusus Mahasiswa yang berasal dari Malang, Yokyakarta,
Bandung, Surabaya, Padang, Ujung pandang
dan Jakarta.menjelang Muktamar setengah abad di Jakarta tahun 1962 mengadakan
kongres Mahasiswa Muhammadiyah di Yogyakarta, dan dari kongres ini semakin
santer upaya para tokoh pemuda untuk melepaskan departemen kemahasiswaan untuk
berdiri sendiri. Pada tanggal 15 desember 1963 mulai diadakan pejajakan dengan
didirikannya Dakwah Mahasiswa yang
dikoordinir oleh : Ir. Margono, Dr. Sudibyo Markoes dan Drs. Rosyad Sholeh. Ide
pembentukan ini berasal dari Drs. Moh. Djasman Al-Kindi yang waktu itu jadi
sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah. Dan sementara itu desakan agar segera
membentuk organisasi Khusus mahasiswa dari berbagai kota seperti jakarta dengan
Nurwijo Sarjono MZ. Suherman, M.Yasin, Sutrisno Muhdam, PP Pemuda Muhammadiyah
Dll.
Akhirnya dengan restu PP
Muhammadiyah waktu itu diketuai oleh H.A. Badawi, dengan penuh bijaksana dan
kearifan mendirikan organisasi yang khusus untuk Mahasiswa Muhammadiyah yang
diketuai oleh Drs. Moh. Djasman Al-Kindi sebagai koordinator dengan anggota M.
Husni Thamrin, A. Rosyad Sholeh, Sudibyo Markoes, Moh. Arif, dll.
Jadi Pendiri Ikatan Mahasiswa
Mhammadiyah dan pencetus nama IMM adalah Drs.
Moh. Djasman Al-Kindi yang juga koordinator dan sekaligus ketua pertama. Muktamar IMM yang pertama pada
tanggal 1-5 mei 1965 di Kota Barat, Solo dengan Menghasilkan deklarasi yang
dibawah ini :
DEKLARASI SOLO
1. IMM,
adalah gerakan Mahasiswa Islam
2. Kepribadian
Muhammadiyah, adalah landasan perjuangan IMM
3.
Fungsi
IMM, adalah sebagai eksperimen Mahasiswa dalam Muhammadiyah (stabilisator dan
dinamisator)
4.
Ilmu
adalah amaliyah IMM dan amal adalah ilmiyah IMM
5.
IMM,
aadalah organisasi yang sah mengindahkan segala hukum, undang-undang,
peraturan, dan falsafah negara yang berlaku
6.
Amal
IMM, dilahirkan dan diabadikan untuk kepentingan agama, nusa dan bangsa
Selanjutnya yang juga termasuk faktor Intern dalam
melahirkan IMM adanya motivasi atas kalangan keluarga Muhammadiyah. Dalam upaya
mewujudkan maksud dan tujuan Muhammadiyah baik yang berada di struktural
ataupun diluar dan partisipan, baik yang berekonomi atasmenengah maupun bawah
harus dapat memahami dan mengetahui Muhammadiyah secara general ataupun secara spesifik sehingga tidak muncul
kader-kader Muhammadiyah yang
radikal(berwawasan Sempit). penegasan motivasi etis ini sebenarnya merupakan
interpretasi (pemahaman) dari firman Allah SWT. Dalam QS. Al-Imran: 104 yang
diharapkan kader-kader IMM dapat merealisasikan motivasi etis diantaranya
dengan melakukan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar, fastabiqul khoirot(berlomba-lomba
dalam kebajikan dan kebaikan).
Faktoe Ekstern , yaitu
sebagaimana yang tersebut diatas baik yang terjadi ditubuh umat islam sendiri
maupun yang terjadi dalam sejarah pergolakan bangsa Indonesia. Yang terjadi di
masyarakat Indonesia pada zaman dahulu hingga sekarang adalah sama saja, yaitu
kebanyakan mereka masih mengutamakan budaya nenek moyang yang mencerminkan
aktivitas sekritistik dan bahkan anemistik yang bertolak belakangdengan ajaran
islam murni khususnya dan tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman. Hal semacam ini
menimbulkan signitifitasi(bias) yang begitu besar, utamanya pada kalangan
mahasiswa yang memiliki kebebasan akademik dan seharusnya memiliki pola pikir
yang jauh, namun karena dampak budaya masyarakat yang demikian membumi, mereka
akan menjadi jumud dan mengalami kemunduran.
Pergolakan
OKP(organisasi Kemasyarakatan Pemuda) atau organisasi mahasiswa periode 50
sampai 60-an terlihat menemui jalan buntu untuk mempertahankan independensi
mereka dan partisipasi aktif dalam pasca proklamasi(era kemerdekaan) RI. Hal ini terlihat sejak pasca kongres
Mahasiswa Indonesia pada tanggal 8 Juli 1947 di Malang Jawa Timur, yang terdiri
dari HMI, PMKRI, PMU, PMY, PMJ, PMKH, MMM, SMI, yang kemudian berfusi(
bergabung) menjadi PPMI( Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia). PPMI
pada mulanya tampak kompak dalam menggalang persatuan dan kesatuan diantara
mahasiswa , namun sejak PPMI menerima anggota baru pada tahun 1958 yaitu CGMI
yang berkiblat dan merupakan anak komunis akhirnya PPMI mengalami
keretakan yang membawa kehancuran. PPMI
secara resmi membubarkan diri pada oktober 1965.
Sebenarnya
sebelum PPMImembubarkan diri, sekitar 1964-1965 masing-masing organisasi yang
berfusi dalam PPMI itu saling berkompetisi dan sok revolusioner untuk merebut
pengaruh para penguasa waktu itu, termasuk juga bung Karno yang tak luput dari
incaran mereka. Hal ini diakibatkan karena masuknya CGMI dalam PPMI yang seakan
mendapatkan legitimasi dari pihak penguasa waktu itu, sehingga CGMI terlihat
besar, HMI pun saat itu hampir rapuh akibat ulahnya sendiri, karena pada saat
itu PKI merupakan partai terbesar dan pendukunganya selalu meneriakkan agar HMI
dibubarkan. HMI yang melihat kondisinya rawan tidak tinggal diam, dengan segala
upayauntuk mengembangkan sayap dan memperkokohnya, HMI kembali berusaha
mendapatkan legitimasi kesana kemari untuk menangkal serangan dari PKI yang
berusaha membubarkannya.
Pada
saat HMI terdesak itulah IMM lahir, yaitu pada 14 maret1964. Inilah sebabnya,
ada stereo tape atau persepsi yang muncul ke permukaan bahwa IMM lahir
sebagai penampung anggota-anggota HMI manakala HMI tidak jadi dibubarkan oleh
PKI, Maka IMM tidak perlu lahir, Namun persepsi yang terputar itu tidak
rasional dan kurang cerdas dalam menginterprestasi fakta dan data sejarah.
Interprestasi
yang benar dan rasional sesuai dengan data dan fakta sejarah adalah IMM salah
satu faktor historisnya adalah untuk membantu eksistensi HMI agar tidak mempan
atas usaha-usaha yang akan membubarkannya, dan sesuai dengan sifat IMM itu
sendiri yang akan selalu bekerjasama dan saling membantu dengan saudaranya(
saudaranya seakidah islam) dalam upaya beramar ma’ruf nahi mungkar yang
merupakan prinsip perjuangan IMM.
Itulah
sekilas kelahiran IMM yang sampai saat ini masih ada oknum-oknum yang
mempersoalkannya(walaupun sudah terbit buku yang menangkal isu tersebut dengan
judul” kelahiran yang dipersoalkan” oleh Farid Fathoni). Dan sekarang kita
telah tahu bahwa IMM lahir memang merupakan suatu kebutuhan Muhammadiyah dalam
mengembangkan sayap dakwahnya dan sekaligus merupakan suatu aset bangsa untuk
berpartisipasi aktif dalam kemerdekaan ini.
Karena
IMM merupakan suatu kebutuhan intern dan ekstern itu pulalah, maka tokoh –tokoh
PP Pemuda Muhammadiyah yang berawal dari HMI kembali ke IMM sebagai anak atau
ortom Muhammadiyah. Mereka yang dulu turut mengembangkan HMI disebabkan karena
IMM belum lahir dan keterlibatan mereka ditubuh HMI hanya sebatas mengembangkan
ideologi Muhammadiyah. Dan sampai sekarangpun HM I masih dimasuki oleh kalangan
mahasiswa dari berbagai unsur ormas islam yang pada akhirnya berbeda dengan
orientasi Muhammadiyah. Mungkin, untuk menangkal klaim seperti tersebut PP
Pemuda Muhammadiyah diatas, adalah bahwa para aktifis akan berdirinya IMM dan
NA yang berusaha mengusahakan berdirinya IMM tidak terlibat dalam aktivitas HMI
langsung maupun tidak langsung. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah benar-benar murni
didirikan oleh pimpinan pusat Muhammadiyah yang diketuai oleh Bapak H.A.
Badawi.
Tujuan IMM
”Mengusahakan
terbentuknya akademisi islamyang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan
Muhammadiyah”
Enam
Penegasan IMM
a. Menegaskan
bahwa IMM adalah gerakan mahasiswa Islam
b. Menegaskan
bahwa kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM
c. Menegaskan
bahwa fungsi adalah eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah
d. Menegaskan
bahwa IMM adalah organisasi mahasiswa yang syah dengan menindahkan segala
hukum, undang-undang, peraturan, serta dasar dan falsafah negara
e. Menegaskan
bahwa ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah
f. Menegaskan
bahwa amal IMM adalah lillahita’ala dan senantiasa diabadikan untuk kepentingan
rakyat
Identitas
IMM
a. Ikatan
mahasiswa muhammadiyah adalah organisasi kader yang bergerak di bidang
keagamaan, kemasyarakatan, dan kemahasiswaan dalam rangka mencapai tujuan
muhammadiyah.
b. Sesuai
dengan gerakan Muhammadiyah, maka Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah memantapkan
gerakan dakwah di tengah-tengah masyarakat khususnya di kalangan mahasiswa.
c. Setiap
anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah harus mampu memadukan kemampuan ilmiah
dan akidahnya.
d. Oleh
karena itu setiap anggota harus tertib dalam ibadah, tekun dalam studi dan
mengamalkan ilmunya untuk menyatalaksanakan ketakwaan kepada Allah SWT.
Perlu diingat pula,
dengan adanya identitas IMM yang telah dirumuskan tersebut diatas sama sekali
tidak terkandung makna bahwa IMM memiliki kepribadian yang berbeda dari
kepribadian Muhammadiyah, sehingga seolah-olah memiliki kepribadia n ganda.
Kepribadian
Muhammadiyah adalah secara conkrit juga kepribadian IMM akan tetapi dikarenakan
fungsi eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah.
Ciri –ciri khusus yang membedakan
dari mahasiswa lain itulah yang dirumuskan dalam identitas IMM didalam gerak
perjuangannya dalam keagamaan, kemasyarakatan dan kemahasiswaan untuk mencapai
tujuan Muhammadiyah.
Trilogi
a. Keagamaan
b. Kemahasiswaan
c. Kemasyarakatan
Trikompetensi
Dasar
a. Religiusitas
b. Intelektualitas
c. Humanitas
Slogan
Anggun dalam moral
unggul dalam Intelektual
Nilai
Dasar Ikatan
a. IMM
adalah gerakan mahasiswa yang bergerak tiga bidang keagamaan, kemahasiswaan dan
kemasyarakatan
b. Segala
bentuk gerakan IMM tetap berlandaskan pada agama Islam yang hanif dan
berkarakter rahmat bagi sekalian alam
c. Segala
bentuk ketidak adilan, kesewenang-wenangan dan kemungkaran adalah lawan besar
gerakan IMM perlawanan terhadapnya adalah kewajiban setiap kader imm
d. Sebagai
gerakan mahasiswa yang berdasarkan Islam dan berangkat individu-individu
mukmin, maka kesadaran melakukan syariat Islam adalah suatu kewajiban dan
sekaligus mempunyai tanggungjawab untuk mendakwahkan kebenaran di tengah
masyarakat
e. Kader
IMM merupakan inti masyarakat utama, yang selalu menyebarkan cita-cita
kemerdekaan, kemulian dan kemaslahatan masyarakat sesuai dengan semangat
pembebasan dan pencerahan yang dilakukan Nabiyullah Muhammad SAW
Profil
Kader Ikatan
a. Memiliki
keyakinan dan sikap keagamaan yang tinggi agar keberadaan di Ikatan di masa
yang akan datang mampu memberi warna masyarakat yang mulai meninggakan
nilai-nilai agamawi.
b. Memiliki
wawasan dan kecakapan memimpin karena keberadaan kader ikatan bagaimanapun
merupakan potensi kepemimpinan umat dan kepemimpinan.
c. Memiliki
kecendikiawanan, mengingat spesialisasi dan profesionalisasi mempersempit
cakrawala berpikir dalam sub bidang kehidupan yang sempit.
d. Memiliki
wawasan dan ketrampilan berkomunikasi, mengingat bahwa masa yang akan datang
industri informasi akan mendominasi sistem budaya kita. Hal ini juga inhern
dengan watak Islam yang dalam keadaan apapun juga selalu siap melaksanakan amar
ma’ruf Nahi Munkar sebagai essensi dari komunikasi Islamisasi.
Falsafah
Gerakan IMM
IMM sebagai gerakan Intelektual
dengan penurunannya “pemaksimalan
akal dalam membaca fenomena untuk mencari kebenaran yang bersumber pada al
Qur’an dan Sunnah terformulasikan dalam humanisasi, liberasi, trasendensi”.
Falsafah
Perkaderan IMM
Yang berdasarkan nilai-nilai:
§ Uswahtun
Hasanah
§ Pedagogi-Kritis
§ Hikmah
IMM adalah organisasi kader jadi bukan organisasi massa, pengertian IMM sebagai organisasi kader harus
ditafsirkan bahwa, setiap mahasiswa yang akan menjadi anggota IMM tidak cukup
dengan memahami dan menyetujui AD/ART IMM saja, akan tetapi ia harus bersedia
dan sanggup mendukung secara aktif cita-cita dan program-program organisasi,
sertya salalu berusaha melaksanakan tuntunan-tuntunanNYA.
Disamping
pengertian demikian, maka terkandung pengertian pula bahwa IMM sebagai
organisasi kader yang berfungsi sebagai penggerak massa, yakni massa Angkatan
Muda Muhammadiyah pada khususnya.selain itu pengertian IMM sebagai organisasi
kader Muhammadiyah yakni intelegensia atau ulama yang besar akan menjadi tulang
punggung dari gerakan islam Muhammadiyah, atau dengan kata lain sebagaimana
lazim diistilahkan dilingkungan Muhammadiyah IMM adalah pelopor, pelangsung dan
pelaksana amal usaha Muhammadiyah.
DEKLARASI GARUT
Menyadari
perlunya meningkatkan mutu “Ikatan“ sebagai aparat pembaharuan dan pengabdian,
IMM menegaskan sekali lagi strategi dasarnya untuk pembinaan organisasi sebagai
berikut:
·
KADERISASI
Membina setiap anggota IMM sebagi kader yang taqwa
kepada Allah dan sanggup memadukan intelektualitas dengan ideologi, karena
suksesnya perjuangan umat Islam Indonesia banyak ditentukan oleh kesanggupan
para intelegensinya untuk selalu berjuang dengan landasan ideologi Islam.
·
KRISTALISASI
Membina setiap anggota IMM sebagi subyek dan aktifis
ikatan yang setia sepenuhnya kepada ideologi dan loyal kepada organisasi.
Pengalaman dan sejarah menunjukan bahwa untuk mencapai sasaran perjuangan
organisasi sebagai aparat untuk mencapai sasaran tersebut, harus didukung oleh
anggota yang meyakini kebenaran ideologi dan mengamalkannya serta aktif
menunjang setiap aktifitas gerakannya.
·
KONSOLIDASI
Terus menerus menyempurnakan dan menertibkan
organisasi, sehingga sebagai aparat perjuangan mampu mengantarkan “ikatan“
dalam mencapai tujuan perjuangan.
Garut,
28 Juni 1967, Konferensi Nasional II
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
DEKLARASI BAITURRAHMAN
Bismillahirrahmanirrahim
1.
Sejarah
Perjalan Ikatan dimulai dengan Deklarasi Kota Barat, Solo, 5 Mei 1965 yang
berisikan hasrat dan tekad kami untuk mewujudkan satu wadah pembinaan generasi muda
Nasional yang kemudian kami namakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Walaupun
masih dalam usia muda, namun kami sadari, bahwa segenap idea dan cita yang
dilahirkan, dikembangkan dan diperjuangkan oleh pewaris nusantara yang
terdahulu, yang bertekad untuk mewujudkan satu Bangsa Indonesia yang besar
dengan satu tata masyarakat yang baru yang damai, adil sejahtera dalam naungan
ridho Ilahi. Kami mengemban pula segenap ide dan cita yang didengungkan pada
proklamasi 17 Agustus 1945, pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, pada
kebangkitan nasional 20 Mei 1908, bahkan idea dan cita yang diperjuangkan oleh
para Pahlawan Nasional yang terdahulu.
2.
Deklarasi
Kota Garut, 28 Juli 1967, berisikan hasrat dan tekad kami untuk menjadikan
ikatan sebagai aparat pembaharu, suatu proses yang selalu dituntut oleh satu
bangsa ataupun satu kaum yang selalu menginginkan kemajuan. Demikian pula kami
tegaskan dalam deklarasi tersebut, satu identitas kepribadian ikatan yang
menuntut setiap pendukung ikatan untuk membekali dan melengkapi dirinya dengan
kemantapan aqidah serta dengan kematangan intelektual, sebab kami yakin bahwa
tantangan kehidupan masa kini dan mendatang hanya akan bisa dijawab oleh
pribadi-pribadi yang matang, dewasa dalam keharmonisan serta perpaduan antara
aqidah dan intelektualitas.
3.
Di
tengah-tengah kepanikan umat dewasa ini akibat krisis kependudukan, moneter,
pangan sumber-sumber alam yang tak tergantikan serta lingkungan hidup, maka
kami berpendapat bahwa sebenarnya dibalik segala krisis yang disadari atau
tidak, diakui atau tidak justru merupakan krisi utama, yakni krisis kemanusiaan.
Tanpa diaukinya krisis kemanusiaan ini, maka krisis-krisis tersebut di depan
tadi akan merupakan lingkaran setan tanpa akhir. Krisi kemanusiaan ini timbul
akibat modernisasi tanpa arah ataupun sebagai akibat dipaksakannya suatu sistem
hidup yang kurang memperhatikan faktor waktu, tempat dan kemampuan, dengan
hanya mementingkan tujuan-tujuan jangka pendek. Krisi ini mulai timbul akibat
cara berfikir yang terlalu rational dan mekanis sebagai bagian dari sesuatu
program hidup yang pragmatis, materialistis, dimana manusia menjadi semakin
kehilangan cakrawala hidup dan idealismenya. Oleh karena itu ikatan menyadari
bahwa disamping tugas dan kewajiban kita untuk memberikan sumbangan dalam wujud
sarana-sarana fisik di dalam pembangunan bangsa, maka kaum muslimin Indonesia
mempunyai kewajiban pula untuk memberikan sumbangan dalam bentuk pembinaan
manusia-manusia Indonesia baru yang tidak saja berilmu dan berkemampuan
ketrampilan tapi juga memiliki sikap/sistem nilai budaya yang insani yang akan
mempu memberikan arah, struktur dan percepatan yang proposional dalam
pembangunan.
4.
Dalam
usaha mewujudkan masyarakat adil makmur material dan spiritual berdasarkan
Undang-undang 45 dan Pancasila, ikatan beranggapan bahwa azas kekluargaan dalam
demokrasi Pancasila seyogyanya tidak diartiak sebagai suatu status hierarkis
administrasi pemerintahan, melainkan sebagai bentuk persaudaraan yang universal
yang bernilai filosofis. Kaum muslimin Indonesia mempunyai tanggung jawab moral
untuk memberikan sumbangan yang berwujud satu perangkat sistem nilai yang
tangguh yang kita gali dari khasanah sistem iman dan Islam bagi dasar filsafat
persaudaraan universal yang tersebut di atas.
5.
Proses
perubahan sosial adalah suatu proses yang selalu terjadi dalam sejarah
kehidupan umat manusia itu. Proses ini dapat terjadi secara alami namun dapat
pula pada suatu waktu dan tempat, didorongkan atau dilaksanakan baik dalam
arah, struktur maupun faktor perepatannya. Diperlukan suatu kemampuan, keuletan
serta seni untuk dapat membawakan diri dalam segala macam bentuk perubahan
tersebut di atas agar peran dan fungsi ikatan sebagai aparat Islamiah dan amar
ma’ruf nahi mungkar tidak berhenti karenanya. Dalam keadaan semacam itu jangan
sampai ikatan kita kehilangan motivasi, arah serta gairah maupun dinamika hidup
perjuangannya. Kami generasi awal yang telah mengantar kelahiran dan perjalanan
hidup ikatan sampai hari ini dan kami generasi penerus yang kini memegang
kembali pimpina ikatan senantiasa bertekad untuk mengemban amanah perjuangan
ini demi kelangsungan peran dan fungsi ikatan dalam masyarakat yang selalu
berubah dan berkembang.
Semarang, 25 Desember 1975 M/27 Dzulhijjah 1395 H
DEKLARASI KOTA MALANG
MANIFESTO KADER PROGRESIF
1.
IMM
di usia yang hampir 40 tahun (usia nubuwwah) harus tampil digarda terdepan
alias dalam perjuangan umat khususnya dikalangan mahasiswa dan bertekad
mewujudkan satu bangsa Indonesia yang besar dalam suatu tata masyarakat baru
yang damai, adil, sejahtera dalam naungan ridha Ilahi.
2.
Deklarasi
Kota Malang, 31 Maret 2002 adalah hasrat untuk melahirkan kesadaran kolektif
kader IMM dan kebulatan tekad kami untuk menjadikan IMM sebagai aparat
pembaharu yang progresif, suatu niscaya untuk transformasi sosial menuju
masyarakat berperadaban. Demikian pula kami tegaskan identitas kepribadian
ikatan sebagi individu yang memiliki kemantapan aqidah dan kematangan
intelektual dan progresifitas aksi, sebab tantangan perjuangan kini dan
mendatang hanya bisa dijawab oleh postur kader progresif (mantap aqidah, matang
intelektual, progresif dalam aksi).
3.
Di
tengah krisi multidimensi, IMM bertekad memantapkan peran dan posisi sebagai
pelopor gerakan kaum muda. Sebagai gerakan kritik vertikal dan pemberdayaan dan
pencerahan horisontal. Dengan membangun kepeloporan dan mendemonstrasikan
kekhasan intelektual gerakan IMM.
4.
Untuk
mewujudkan Baldatun Tayyibah Warabbun
Gafur, maka kaum muslimin Indonesia memiliki tanggung jawab khususnya
Muhammadiyah lebih khususu lagi IMMuntuk memberikan lagi kontribusi berujud
pada satu perangkat sistem nilai yang tangguh yang digali dari kahasanah
sisitem iman dan Islam bagi dasar filsafat persaudaraan Universal.
5.
Sumpah
kader pelopor-progresif : kader pelopor-progresif IMM mengikrarkan: Mengaku berbangsa satu; bangsa yang
mencita-citakan keadilan; mengaku berbahasa satu; bahasa yang kebenaran;
mengaku bertanah air satu; tanah air tanpa penindasan.
6.
Perubahan
sebagai suatu yang nsicaya dalam sejarah umat manusia. Menuntut kader IMM tidak
terlahir sebagai generasi kerdil ditengah kebesaran Zaman.
Diperlikan suatu kemampuan, keuletan dan integritas untuk membawakan diri
tampil elegan dan tidak terbawa arus. Bahkan menjadi pelopor perubahan menuju
keadilan dengan tetap menegaskan peran dan fungsi ikatan sebagai aparat dakwah
Islamiyah dan amar ma’ruf nahi mungkar.
7.
Kami
generasi IMM telah mengantarkan sebagian dari sejarahnya dan hari ini
senantiasa bertekad memanifetokan kader pelopor untuk perjuangan umay menuju
kecermelangan Islam. Mari bergerak bersama. Progresif jangan terhenti pada
jargon dan retorika. Demi kelangsungan peran dan fungsi ikatan dalam masyrakat
yang selalu berubah dan berkembang.
Malang, 31 Maret 2002
MANIFESTO POLITIK 40 TAHUN
IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH
1.
Dalam
prespektif gerakan IMM tetap mengedepankan aspek moral dan memperjuangkan
politik nilai yang berbasis pada penguatan intelektualitas,
2.
Dalam
usia kenabian, IMM harus dapat melepaskan diri dari ikatan ikatan
primordialisme gerakan dan harus melebur dengan kekuatan pro demokrasi, pro
rakyat untuk mewujudkan Indonesia yang bermartabat dan berkeadilan.
3.
IMM
secara konstitusional mempunyai kewajiban untuk turut serta mendukung seluruh
proses demokrasi termasuk memberikan penguatan kepada sang reformis untuk
memipin bangsa. Dll. Sikap tersebut adalah lembaran baru perjuangan IMM
ditengah nasib bangsa sedang menghadapi problematika yang cukup serius. Tindak
lanjut dari sikap yang ketiga khusunya, DPP IMM telah menjadi salah satu
kekuatan penyangga dari MPR (masyarakat peduli reformasi) sebagai alat
perjuangan, walaupun pada akhirnya cita-cita tersebut masih belum berhasil,
namun apa yang sudah diperjuangkan IMM melalui MPR tidak akan sia-sia.
Jakarta, 31
Maret 2004
LAGU PERJUANGAN
MARS MUHAMMADIYAH
Sang surya telah
bersinar
Syahadat dua melingkar
Warna yang hijau
berseri
Membuatku rela hati
Ya Allah Tuhan Robbyku
Muhammad junjunganku
Al-Islam agamaku
Muhammadiyah gerakanku
Di timur fajar cerah
germerlapan
Mengusik kabut hitam
Menggugah kaum muslimin
Tiggalkan peraduan
Lihatlah matahari telah
tinggi
Di ufuk timur sana
Seruan illahi Rabby
Sami’na wa atha’na
Ya Allah Tuhan Robbyku
Muhammad junjunganku
Al-Islam agamaku
Muhammadiyah gerakanku
MARS IMM
Ayolah, ayo... ayo…
Derap derukan langkah
Dan kibar geleparkan panji-panji
Ikatan mahasiswa muhammadiyah
Sejarah ummat telah menuntut bukti
Ingatlah..ingat…ingat
Niat tlah diikrarkan
Kitalah cendekiawan berpribadi
Susila cakap taqwa kepada Tuhan
Pewaris tampuh pimpinan ummat nanti
Immawan dan immawati
Siswa teladan putra harapan
Penyambung hidup generasi
Ummat Islam seribu zaman
RENUNGAN KADER
Seusai tahajjud
Ku merenung lagi
Siapa kemana
Diri hina ini
Lama ku tertidur
Dalam duniaku
Nanar ku memandang
Alam sekelilingku
Reff:
Beribu mujahid
berguguran sudah
Beribupun Nampak
semakin merentah
Namun kebetulan tiada kunjung sirna
Bahkan semakin menyesakkan dunia
Kini tiba waktu tuk
kita tampilkan diri
Gelisah ummatku tak
sabar menanti
Dalam ikatan telah
bersemi janji
Hidup dijalan_NYA atau
mati syahid
PERJUANGAN MUDA
Selamat datang wahai pejuang muda
Dalam IMM kita maju bersama
Ukir sejarah membelah cakrawala
Menepis kabut menguak fenomena
Harapan bangsa ada di pundak kita
Sebagai kader muda muhammadiyah
Jadi tumpuhan wahai kau tunas muda
Kita berjuang untuk nusa dan bangsa
Reff:
Raihlah cita-cita membangun nusa
bangsa
Mari kita belajar, beramal dan
berjuang
Harapan ummat Islam
Tuk menuju cita-citanya…2x
IMM PROGRESIF
Ikatan mahasiswa
muhammadiyah
Bangga dengan DAD
progresifnya
Pendukung cita-cita
satu ikatan
Pelopor pelangsung dan
penyempurna
Kota pahlawan jadi
saksi utama
Perjuangan para kader
ikatan
Progresif dalam gerakan
mahasiswa
Pencerahan dan
kemandirian bangsa
Reff:
Marilah immawan dan
immawati
Tunjukkan satu bukti
Si kota yang bersejarah
ini
Jayalah.. IMM.. jaya
jayalah….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar