Pages

Selasa, 05 Februari 2013

kandungan Jihad dalam Al-Qur'an



1.       Kandungan Jihad dalam al-Qur’an

Ayat yang menunjukkan bahwa jihad merupakan ujian dan cobaan dapat dilihat dalam QS. al- Ali Imran (3): 142
Terjemahan
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad[232] diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.
Ayat ini mengandung makna bahwa jihad merupakan cara yang ditetapkan Allah untuk menguji manusia. Jihad dalam ayat ini dapat diartikan sebagai: berperang untuk menegakkan Islam dan melindungi orang-orang Islam; memerangi hawa nafsu; mendermakan harta benda untuk kebaikan Islam dan umat Islam; memberantas yang batil dan menegakkan yang hak.
Jihad merupakan aktifitas yang unik, menyeluruh, dan tidak dapat dipersamakan dengan aktivitas lain. Tidak ada satu amalan keagamaan yang tidak disertai dengan jihad. Paling tidak, jihad diperlukan untuk menghambat rayuan nafsu yang selalu mengajak pada kedurhakaan dan mengabaikan tuntunan agama. Oleh karenanya manusia diperingatkan oleh Allah agar tidak mengikuti hawa nafsu sekehendak hati, karena dapat mendorong kepada kekufuran dan kedurhakaan, dan dengan demikian pula manusia pada hakikatnya tidak memperoleh petunjuk bahkan ia akan menjadi sesat. Hal ini sejalan dengan Firman Allah dalam QS. al-Qasas (28): 50:
Terjemahnya:
Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) Ketahuilah bahwa Sesung- guhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesung- guhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
Ayat di atas diperkuat oleh hadis Rasulullah saw.:
Artinya:
Orang yang berjihad adalah orang yang berjihad terhadap dirinya (hawa nafsunya)”[13]
Mukmin adalah mujahid, karena jihad merupakan identitas kepribadian muslim. Al- Quran menegaskan dalam QS. al- Ankabut (29): 6.
Kata       جاهد (jaahada) terambil dari kata جهد (juhd) yakni kemampuan. Patron kata yang digunakan ayat ini menggambarkan adanya upaya sungguh-sungguh. Dengan demikian ayat ini dapat dipahami bahwa barang siapa yang berjihad yakni mencurahkan kemampuannya untuk melakukan amal saleh sehingga ia bagaikan berlomba-lomba dalam kebajikan, maka sesungguhnya manfaat dan kebajikan jihadnya adalah untuk dirinya sendiri.

Al-Biqa’I sebagaimana dikutip oleh M. Quraish Shihab memahami kata jihad pada ayat ini dalam arti mujahadan, yakni “yakni upaya sungguh-sungguh untuk melawan dorongan hawa nafsu” dan kata tersebut tidak disebut obyeknya, dan karena itu pula yang disebut meraih manfaatnya adalah kata “nafs”, yakni dengan menyatakan  لنفسه (linafsihi) sebab nafsu selalu mendorongnya kepada kejahatan.
Karena jihad adalah perwujudan kepribadian maka tidak dibenarkan adanya jihad yang bertentangan dengan fitrah kemanusiaan. Bahkan bila jihad dipergunakan untuk memaksa berbuat kebathilan harus ditolak sealipun sekalipun diperintahkan oleh kedua orang tua. Firman Allah dalam QS. Lukman (31): 15
Terjemahannya:

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya,.QS. Lukman (31): 15.
Terakhir dan terpenting dari segalanya adalah bahwa jihad harus dilaksanakan demi Allah, bukan untuk memperoleh tanda jasa, pujian, apalagi keuntungan duniawi.
Firman Allah dalam QS. al- Hajj (22): 78
Terjemahannya:
Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.

Mereka yang berjihad pasti diberi petunjuk dan jalan untuk mencapai cita-citanya. Firman Allah dalam QS. al-Ankabut (29): 69
Terjemahannya:
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.
Disamping itu para mujahid akan memdapatkan ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. Firman Allah dalam QS. al-Anfal (8): 74; Akan diberikan derajat yang tinggi dan mendapatkan kemenangan (QS. al- Taubah (9): 20; dan mendapatkan keberuntungan (QS. al-Maidah (5): 35.
2. LUBABUT TAFSIR MIN IBNU KATSIR
1. berjihad melawan musuh yang nyata sebanyak 26 kali,
2. berusaha bersungguh-sungguh sebanyak 7 kali,
3. kemampuan sebanyak 1 kali,
4. berjihad melawan nafsu, setan, dan musuh yang nyata sebanyak 2 kali.
Qs: Ali- Imran             (3 : 142)
142.  Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.
Qs: Al- Hajj             (22 : 78)
78.  Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. dia Telah memilih kamu dan dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. dia (Allah) Telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu[993], dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka Dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. dia adalah Pelindungmu, Maka dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong.
Qs: At- Taubah (9 : 20)
20.  Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.
Al-Furqan      (25 :  52)
52.  Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar.
3. TAfSIR SAYYID QUTUB
Pendapat serupa dikemukakan oleh Sayyid Qutub. Menurutnya, sebagaimana dikutip dalam Tafsir al- Misbah bahwa jihad meningkatkan kualitas sang mujahid dan kalbunya, mengangkat dan memperluas ufuk wawasannya. Menjadikannya mampu mengalahkan kekikiran jiwa dan harta bendanya, serta mengundang lahirnya potensi-potensi positif yang terdapat dalam dirinya. Ini semua pada diri yang bersangkutan dan yang akan berdampak pada masyarakat mukmin, kemudian pada gilirannya melahirkan di tengah masyarakat kemantapan haq ,kemenangan kebaikan atas kejahatan, serta kesalehan atas kedurhakaan.
1. berjihad melawan musuh yang nyata sebanyak 24 kali,
2. berusaha bersungguh-sungguh sebanyak 8 kali
3. kemampuan sebanyak 1 kali,
4. berjihad melawan nafsu dan setan sebanyak 1 kali,
5. berjihad melawan nafsu, setan, dan musuh yang nyata sebanyak 2 kali

Al-Furqan       (25 : 52)
52.  Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar.
Qs: Al- An’ fal     (8 : 74 )
74.  Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.
Al-Furqan       (25 : 52)
52.  Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar.
Qs: At- Taubah (9 : 20)
20.  Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.
Al-Furqan       (25 : 52)
52.  Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar.
Mujahid adalah yang mencurahkan seluruh kemmpuannya dan berkorban dengan nyawa atau tenaga, pikiran, emosi, dan apa saja yang berkaitan dengan diri manusia. Jihad adalah cara untuk mencapai tujuan. Caranya disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai dan dengan modal yang tersedia. Jihad tidak mengenal putus asa, menyerah, bahkan, tidak pula pamrih.
Dengan demikian beraneka ragam jihad dari segi lawan dan buahnya. Ada jihad melawan orang-orang kafir, munafik, setan, hawa nafsu dan lain-lain. Buahnyapun berbeda-beda. Jihad seorang ilmuwan adalah pemanfaatan ilmunya; Pemimpin adalah keadailannya; pengusaha adalah kejujurannya; Pemangkul senjata adalah kemerdekaan dan penaklukan manusia yang zalim. Semua jihad, apapun bentuknya dan siapapun lawannya, harus karena Allah dan tidak boleh berhenti sebelum berhasil atau kehabisan modal. Itula yang dimaksud dengan  (حق جهاده) haqq jihadihi dalam firman-Nya di atas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About